Archive for the ‘Renungan’ Category

Setiap orang mamiliki karakteristik dan seni masing masing dalam menjalani hidup, ada yang menjalani hidupnya dengan penuh pemikiran, ada yang menjalani hidupnya dengan penuh keraguan sampai bingung harus berbuat apa, ada juga yang asal-asalan (asal idup aja, yang penting gue bisa ketawa) bahkan ada yang bingung sampai bertanya (buat apa saya hidup?) yah aneh memang kalau kita perhatikan gaya mereka satu persatu bahkan saya saja masih belum yakin saya masuk pada penganut golongan gaya hidup yang mana, karena masih sering berubah rubah (mirip bunglon).

Dari beberapa contoh seni gaya haidup manusia yang saya temukan, pada dasarnya itu adalah sebuah pembuktian dari sebuah teori yang sama-sama kita yakini bahwa “Manusia diciptakan 1001 macam” dengan berbagai perbedaan perbedaan yang ada, tetapi di akui atau tidak sebenarnya dari semua seni hidup yang ada, sebenarnya hanya ada satu alasan mengapa mereka menganut seni hidup tersebut, alasanya adalah “Harapan”, contoh sipenganut seni hidup asal-asalan mereka “berharap” dengan mereka hidup asal-asalan mereka akan menemukan kebahagiaan, mungkin menurut mereka “keinginan itu adalah sumber penderitaan” sekarang golongan yang memaki seni hidup penuh pemikiran, tak beda jauh hanya terbalik saja, kaum ini “berharap” dengan mereka memikirkan hidupnya dengan matang mereka akan mencapai kebahagiaan, mungkin mereka beranggapan bahwa apabila mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka dari A-sampai-Z mereka minimal tidak akan kesusahan. sekarang apa yang terjadi pada golongan “penuh keraguan” dan golongan “bingung” sampai tidak sedikit anggota dari kedua golongan ini nekad mengakhiri hidupnya dengan singkat “bunuh diri” apa ini juga dengan alasan “harapan” saya rasa YA! karena umumnya mereka berbuat seperti itu didorong oleh rasa tidak kuat menjalani penderitaan hidup, dan mereka “berharap” dengan mereka mengakhiri hidupnya, mereka tidak lagi merasakan penderitaan tersebut.

hmm… kalau begitu saya harus pandai pandai memilah dan memilih harapan yang harus saya perjuangkan, karena sepertinya tidak semua harapan bisa membawa kita ke araha yang lebih baik, kita harus mencari harapan yang benar-benar bisa kita realisasikan, karena harapan yang seperti itulah yang bisa berubah menjadi sebuah “MIMPI YANG TERBELI”

Advertisements

17.00 Wib disebuah tempat makan dipingiran kota jakarta, kami anggota Vesys community telah berkumpul memenuhi meja yang telah disediakan oleh si pengelola tempat makan tersebut, karena memang kami sudah booking satu hari sebelumnya agar kami mendapat tempat, yah kami mendapat tempat walau sedikit kurang nyaman tapi kami mengerti memang situasi ramai dan mungkin tempat yang ada tidak dapat menampung pengunjung yang hendak buka puasa disana 😦

Tak lama menunggu akhirnya seorang pelayan menghampiri kami dengan tujuan mengambil catatan daftar menu yang kami pesan, yah memang waktu itu waktu bukas puasa masih lama, mungkin mereka antisipasi agar pesanan tidak datang terlambat ke meja kami ,yah sebuah kerja yang bagus fikir saya dalam hati 🙂

Tak terasa kami terlarut dalam canda dan tawa hingga kami tak sadar bahwa waktu berbuka puasa telah tiba, hmm sudah tak sabar rasanya kami ingin sekali membasahi kerongkongan kami yang kering dengan minuman kesukaan kami masing-masing yang telah kami pesan, namun setelah kami menunggu begitu lama pesanan kami tak kunjung datang hanya ada 3 gelas pesanan dari sekian banyak pesanan yang kami pesan, akhirnya salah satu dari kami bengkit dari tempat duduknya menanyakan pesanan yang kami pesan, dan kembali dengan wajah kesal dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata “minuman yang belum datang itu ternyata kosong” what….? sekian lama kami menunggu yang kami dapat hanya kata pesanan yang kami pesan kosong 😦 ya ya ya… sabar… sabar… mungkin mereka sangat repot hingga tidak sempat memberi tahu kami bahwa pesanan yang kami pesan kosong, lalu kami mengganti menu minuman yang kami pesan dengan menu yang tersedia.

Akhirnya minuman yang kami pesan datang, tapi hanya sebagian yang datang, oh ya…. mungkin belum selesai dibuat, kami pun menunggu lagi hingga lebih dari 30 menit barulah semua pesanan minuman kami sampai di meja, namun lagi-lagi kami harus dibuat kesal dengan pesanan makanan kami yang tak kunjung tiba padahal pengunjung yang lain yang datang setelah kami, sudah selesai makan bahkan sudah ada yang beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, hmmm ini tidak bisa dibiarkan fikirku, dengan sedikit emosi saya bangkit dan bergegas mendatangi seorang pelayan yang sedang berdiri didepan meja Cashier. “mbak… pesanan saya sudah apa belum? dibatalkan saja deh, kelamaan” ucapku dengan sedikit kesal, dan pelayan tersebut menjawab dengan wajah tanpa rasa bersalah “oh iya ini sudah selesai kok” lalu dia mengantar pesanan makanan kami yang sudah kami tunggu selama hampir 2 jam.

Yang membuat kami heran, Apakah mereka tidak mempunyai prosedur kerja ya? sampai pengunjung yang datang duluan harus pulang belakangan, dan saya rasa mereka salah menulis Moto di baju seragam yang mereka pakai saharusnya jangan tertulis “LEBIH LAKU” tapi “LEBIH LAMA” sungguh pengalaman yang membosankan di Pecel L*** L***

Kado Ulang Tahun Buat Weny

Posted: January 20, 2010 in KBM, Renungan
Tags: , , , ,

Hujan mengguyur daerah timur jakarta sore itu, sorang gadis berlari mengejar bis kota dengan baju putih abu-abu yang nampak kuyup dan kotor terkena percikan air jalanan yang berhamburan diterpa roda-roda raksasa penghuni ibu kota, sementara disebrang sana seorang bapak setengah tua sedang asik menikmati dinginnya udara ibu kota yang memang sangat jarang di temui, sambil duduk manis menikmati secangkir kopi hangat di sebuah cafe.

Nama Gue Weny, ya Weny Febryani, sebenernya Gue maunya dipanggil febry, tapi sejak kecil nyokap sama ibu-ibu tetangga rumah biasa mangil gue Weny, jadilah nama itu yang Gue bawa kemana Gue pergi sampai sekarang, Gue tinggal di sebuah sebuah perkampungan di pingiran kota jakarta, disini aku menempati sebuah rumah mungil yang hanya memiliki satu kamar tidur dan satu ruang serba guna, di ruang serbaguna itulah semua aktivitas rumah dilakukan, dari mulai masak, makan, noton tv, sampai tempat terima tamu pun ruang itu juga yang kami pakai, di rumah itu Gue tinggal bersama Nyokap dan satu Adik Cowok yang masih kelas 6 SD, Beny nama bocah jail yang selalu membuat Gue sebal setiap hari, tapi bagaimanapun juga dia adik Gue terkadang dia juga yang membuat Gue terhibur dengan kejailannya saat aku merasakan kepenatan dalam hidup Gue..

Saat ini usia Gue hampir menginjak 17 tahun, hmm.. sebenarnya Gue pengen sekali ngerayain ulang tahun gue yang ke 17 pake acara pesta dan ngundang temen-temen, pastinya mereka akan ngucapin selamat, ngasih doa dan bawain Gue kado, Hah sudahlah Gue gak boleh terlalu bermimpi, Gue harus sadar buat nyekolahin Gue sama Beny aja Nyokap udah kesusahan setengah mati, maklum lah Nyokap bukan wanita karier seperti Nyokapnya temen-temen Gue, Nyokap Gue cuman penjual nasi uduk yang berjualan dipinggir jalan setiap pagi dan malam, hmm… kasian juga ya Nyokap Gue, andai aja si berengsek itu gak ngambil Bokap dari kita, dan andai aja Bokap lebih milih Gue dan Beny ketimbang tinggal dan hidup dengan “Anjing Jalang” yang kotor dan busuk itu, mungkin Nyokap gak perlu repot-repot jualan buat biaya sekolah Gue, Gue juga bisa berangkat sekolah dengan tenang tanpa harus berdesak-desakan dalam Bis kota setiap pagi karena ada supir yang bisa ngenterin Gue ke sekolah, Hah… sudahlah semuanya buat Gue udah gak ada, Gue gak pernah berharap Bokap balik lagi setelah Dia milih wanita sialan itu dan pergi ninggalin Nyokap dan Gue anaknya.

Siang ini panas begitu terasa sepertinya lidah-lidah neraka sudah menjulur kebumi seakan siap menghanguskan jasad-jasad munafik yang semakin hari semakin banyak berkeliaran di kota ini, Bel di Sekolah Gue sudah berbunyi disusul berhamburannya siswa-siswi SMU Bhakti 06 keluar meninggalkan ruangan kelas yang memang sejak pagi terasa mencekam akibat suasana panas ditambah lagi ketegangan guru kiler yang duduk didepan memberi pelajaran dengan sesekali memainkan kumisnya yang tebal, Oh Now… Guru itu yang paling Gue benci udah galak, badannya tinggi gede hmm… pokonya gak ada hal yang menyenangkan yang keluar dari mulutnya. Disekolah ini Gue punya 5 orang sahabat yang menurut Gue merekalah yang bisa ngertiin Gue dalam keadaan apapun, temen Gue yang pertama namanya “Dita” dia orangnya cantik bawel walau kadang-kadang meyebalkan tapi dia selalu baik sama Gue, yang ke dua namanya “Olin” dia gak terlalu cantik kaya Dita sih tapi lumayan lucu lah yang paling gue suka dari dia dia selalu traktir gue kalo pas jam istirahat maklum dia anak orang kaya sekolah aja dia selalu bawa mobil kesayangannya, sebuah mobil honda jaz berwarna pink yang penuh dengan pernak pernik cewek didalamnya, hmm sayang rumah Gue gak searah, kalo searah kan bisa nebeng Gue. Nah kalo temen gue yang ketiga namanya susan dia orangnya agak-agak pendiam dan dia orannya sangat disiplin gak seperti anak-anak yang lainnya, nah kalo yang dua lagi mereka cowok namanya Rendi dan iwan, mereka kurang lebih sama lah hobinya godain cewek dan agak-agak badung gitu, tapi lumayan lah itung -itung jadi bodyguard gue.

Hai wen… Sapa Olin sambil berlari ke arah Gue dan langsung memeluk Gue dari belakang, duh yang punya gebetan baru ceria amat keliatanya “kata Gue becandain Olin” ih apaan sih…? siapa coba yang punya gebetan baru “Olin ngeles seakan pura-pura gak tau ama yang Gue ucapin barusan” udah deh Lin sekarang yang penting lo harus neraktir Gue, ya itung-itung ngerayain gitu deh he he he… ih apaan sih Wen…​ gue kan blom jadian ama dia, Aduh Olin yang cantik, semua anak-anak Bhakti juga udah tau semua kali, kalo Boy itu suka sama Lo, jadi tinggal nunggu waktu aja lo ama Boy pasti ehm,ehm deh… he he he, ih.. Weny… apaan sih, jangan bikin Gue Geer deh, udah ah Gue balik duluan ya Wen… dah Weny….

Sementara Olin berlalu dengan Senyum dan lambaian tangannya, Gue masih duduk bengong di depan gedung sekolah yang mulai tampak sepi ditinggalkan penghuninya, hmm Susan sama Dita mana ya…? gumam ku dalam hati, memang Gue selalu pulang bareng mereka tiap hari karena rumah kita searah jadi kita biasa pulang bareng,tanpa pikir panjang aku pun segera bergegas ke arah kantin sekolah, siapa tau mereka masih disana, ya benar sekali dugaan Gue ternyata Mereka masih nongkrong di kantin, oh ternyata ada Rendi dan Iwan juga, Halo nona manis…. begitulah Rendi dan Iwan biasa menyapa gue, halah apaan sih lo busuk, gue cari-cari ternyata mangkal disini ya lo pada.. “ kata Gue sambil pura-pura kesel” jangan ngambek dong Wen Kita tadi gak sempet ngasih tau lo kalo kita disini soalnya tadi Gue cari-cari Lo udah keluar kelas duluan “ Susan coba jelasin biar Gue gak kesel ama meraka” ya udah dari pada lo cemberut gitu kayak nenek sihir mending lo pesen makanan gih tar Gue yang bayar deh “Dita ngerayu Gue”, gak ah Gue masih kenyang Dit, tadi istirahat abis makan sama Olin,Eh iya Olin mana Wen “tanya Iwan” Olin balik duluan gak tau deh dia kayak buru-buru gitu “jawab Gue” udah yuk kita balik aja udah sepi nih, tuh ibu kantin nya juga udah mau nutup “ajak Gue” mau jalan dulu apa langsung balik nih tanya Rendi ke kita, balik aja deh gue capek banget nih jawab gue, jalannya besok aja lagi lagian Olin nya aja gak ada Dita nyambung jawaban gue, Akhirnya kami pulang diantar Metro mini yang sedikit miring ke kiri akibat penuhnya penumpang yang bergelantungan di pintu.

Sesampainya dirumah Gue ngeliat nyokap Gue lagi nagis sambil megang photo Gue pas Gue kecil yang lagi di gendong sama laki-laki berengsek yang udah bikin hidup nyokap Gue ancur, mama… mama kenapa ma….? mama ko nagis….? hanya itu yang bisa keluar dari mulut Gue melihat pemandangan yang membuat kebencian Gue makin mendalam sama bokap Gue itu, gak kok Wen mama gak apa-apa, mama cuman inget sebentar lagi kamu 17 tahun, mama sedih diusia kamu yang menjelang dewasa ini mama gak bisa bahagiain kamu nak, andai aja papa kamu masih bersama kita ya Wen, memang seberapa besarpun kebencian Gue sama bokap tapi tetep buat nyokap Gue bokap itu segala-galanya, bahkan setelah disakitipun nyokap masih ngarep bokap balik buat kita, mungkin emang nyokap bener-bener cinta kali ya sama bokap Gue yang berengsek itu..? udah dong ma… Weny bahagia kok sama kehidupan kita yang sekarang, Buat Weny mama adalah mama yang paling hebat ma, kalo Weny punya anak nanti Weny pengen kayak mama, lalu nyokap meluk Gue dan kita pun terlarut dalam suasana yang mengharu biru.

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu Gue disibukan dengan segala sesuatu yang harus gue kerjakan setiap pagi, dari mulai bikin sarapan buat Beny sampai nyiapin baju seragamnya, maklumlah soalnya jam segini nyokap masih jualan dia baru pulang kerumah kalo Gue ama Beny udah berangkat kesekolah, jadi Gue yang harus nyiapin segala keperluan buat ade kecil gue itu, setelah semuanya selesai Aku pun bergegas pergi menuju tempat dimana aku menaruh harapan besar untuk masa depanku, sesampainya di sekolah ternyata Olin,Susan,Dita dan kedua cowok jail yang gak asing adalah Rendi dan Iwan udah ngumpul didepan kelas sambil ketawa ketiwi, hus pada ngetawain apaan sih pagi-pagi gini…? tanya gue heran, hmm ternyata seperti biasa Rendi bikin ulah lagi dia so so ngegodain cewek anak kelas satu sampe cowoknya kesel terus marah-marah sama Rendi, dasar kadal pagi-pagi udah bikin ulah, Eh iya sebentar lagi temen kita ada yang ultah Lho… tiba-tiba Olin berkata sambil ngelirik-lirik ke arah Gue, ehm..ehm dapet teraktiran dong sambung Susan dan Dita ditambah suara cengengeasan dari dua kadal jelek yang udah menampakan muka-muka geratisannya, seketika Gue yang tadinya ceria berubah menjadi murung, Gue sadar akan keadaan Gue, Gue mana sanggup bikin pesta ulang tahun seperti yang biasa mereka lakukan kalo meraka Ultah, Aduh… Gimana ya…?.Lo kenapa Wen….? sakit…? tanya Iwan memecah lamunan Gue, eh enggak kok, eh semuanya Gue duluan ya Gue mau ngerjain tugas dulu soalnya kemaren gak sempet nih, lalu Gue berlalu meninggalkan mereka yang masih ngerasa aneh dengan sikap Gue itu.

Semenjak kejadian pagi itu, Gue jadi kepikiran terus ama hari Ultah Gue yang tinggal 3 Hari lagi, di satu sisi Gue pengen banget bisa ngerayain Ultah seperti temen-temen Gue yang lain, disisi lain Gue juga gak tega kalo harus ngerepotin nyokap yang udah susah payah ngurusin Gue tanpa Bokap, aduh… gimana dong, siang itu tanpa biasanya Gue balik sendiri, Gue sengaja ngehindar dari temen-temen gue yang terus menerus menanyakan tentang pesta Ultah Gue, buat Gue itu cuman hayalan kosong,tanpa sadar Gue berjalan menyusuri trotoar yang terbungkus gumpalan debu jalanan dan sampailah didepan sebuah cafe yang sangat mewah, aku berhenti sejenak, aku melihat sosok lelaki setengah tua yang sepertinya tak asing buat Gue, ya sepertinya Gue tau siapa dia, dia lelaki yang udah ngancurin hidup nyokap, anjing… enak-enakan dia disini sementara nyokap harus mati-matian jualan buat ngidupin Gue dan Beny, saat itu emosi Gue gak bisa dikontrol lagi, Gue langsung masuk kedalam cafe lalu gue maki-maki lelaki yang tak lain adalah Bokap Gue sendiri “ Anjing,.. Seneng lo udah ngancurin hidup mama dan kedua anak lo ini,” umpat Gue dengan emosi yang sangat tinggi, Weny…. “hanya itu yang keluar mulut busuk lelaki sialan itu” iya Gue Weny anak dari wanita yang udah Lo sia-siain, puas Lo sekarang hidup dengan anjing betina yang udah ngerebut kebahagianan Gue dan keluarga Gue, Weny dengerin dulu penjelasa papa, Gak perlu…! Buat Gue Lo bukan Papa Gue lagi semenjak Lo pergi dan milih anjing sialan itu… lalu Gue ambil segelas kopi yang ada dimeja lalu kusiramkan ke arah wajah lelaki busuk itu, papa hanya terdiam tanpa berkata apapun, sementara Gue bergegas pergi meninggalkannya dengan isak tangis kesal bercampur sedih menyelimuti perasaan Gue.

Sesampainya dirumah Gue gak nyeritain semua kejadian yang udah Gue alamin tadi siang, Gue takut mama malah tambah sedih kalo Gue cerita semuanya, disela kemarahan dan kebencian Gue, Gue merasakan sedikit penyesalan akan apa yang udah Gue lakuin sama bokap Gue, biar gimanapun di bokap Gue, Gue udah keterlaluan, Gue teringat raut wajah yang penuh penyesalan ketika Gue memakinya dengan kata-kata yang kotor,mungkin memang dia benar-benar menyesal dan ingin menjelaskan semuanya sama Gue….? ah… gak, gak mungkin dia akan balik lagi sama nyokap, udahlah dia cuman masa lalu buat Gue.

Kakak….. Suara Beny memecah keheningan, iya ben ada apa, kakak lagi sibuk gak….? “tanya beny lugu” enggak kok Ben emang kenapa, bantuin aku bikin PR dong kak, soalnya Beny gak ngerti nih, oh gitu “jawab Gue singkat” lalu Gue segera membantu adik kecilku itu untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya sampai selesai.

Keesokan harinya Gue dikejutkan dengan berita bahwa papanya Olin meninggal dunia, sayang Gue sudah janji untuk membantu mama menyiapkan dagangannya, jadi Gue gak bisa ikut kerumah Olin untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa, pikirku biarlah Susan,Dita dan kedua kadal busuk aja lah yang pergi ke rumah Olin Gue kan Bisa besok-besok, kali ini Gue lagi pengen banget bantuin mama, hmm ternyata baru sekali aja bantuin nyokap nyiapin dagangannya sampe-sampe bikin Gue jalan miring seharian karena kecapean, apalagi nyokap yang tiap hari ya… hmm sungguh malang nasibmu ma…

Hari ini tanggal 14 february 2013 sekarang umur Gue genap 17 tahun Gue gak peduli lagi dengan pesta Ultah, Gue gak peduli lagi dengan kado-kado yang selalu Gue impikan sebelumnya, sekarang yang ada di otak Gue cuman gimana caranya Gue bisa Lebih Dewasa dan bisa bantuin nyokap, itu yang terpenting buat Gue saaat ini, Dengan baju putih abu-abu dan spatu kets hitam yang mulai lusuh aku melangkah keluar rumah, dengan senyum dan semangat baru, Gue berangkat menuju sekolah, hmm pasti anak-anak sudah menungguku untuk menagih traktiran nih, ah masa bodo Gue tinggal bilang gak ada acara traktir-traktiran Gue gak punya duit, dan semuanya pasti beres,he he he…

sesampainya disekolah semua teman-teman Gue langsung ngucapin selamat sama Gue, terharu banget rasanya Gue ternyata mereka ngerti keadaan Gue, gak ada satupun dari mereka yang nagih teraktiran dari Gue, tapi rasanya ada yang kurang, ada satu orang yang belum ngucapain selamat buat Gue, ya ya ya Olin kemana dia….? dia belum ngucapin selamat buat Gue, hmm apa dia belum masuk sekolah ya karena masih dalam keadaan berduka, tanpa panjang lebar Gue langsung nyamperin Susan, San.. Olin belum masuk ya,….? Oh iya Wen hampir Gue lupa, tadi Olin sms Gue katanya pulang sekolah nanti Lo disuruh dateng kerumahnya, katanya ada yang mau dia omongin sama Lo, soalnya dia belom bisa masuk sekolah hari ini Wen, “ada apa ya Olin nyuruh gue dateng, jangan-jangan dia marah gara-gara Gue gak ikut dateng pas bokapnya meninggal” Gue terus bertanya-tanya dalah hati,

Akhirnya Bel tanda jam pelajaran selesaipun berbunyi, Gue segera bergegas pergi kerumah Olin, tapi Gue minta detemenin sama Dita soalnya males banget kalo harus jalan sendiri mana rumahnya Olin lumayan jauh lagi, Untung aja Dita mau nemenin Gue, jadi gak bete deh Gue dilajalan, Dit.. ada apa ya ko Si Olin nyuruh Gue dateng kerumahnya….? ”tanya Gue” mau ngasih lo kado kali Wen, karna dia belom bisa masuk sekolah jadi Lo deh yang suruh dateng kerumahnya, “jawab Dita sambil cengengesan” tak lama kemudia kamipun sampai didepan rumah Olin, Rumah besar itu tampak sepi,terlihat sekali suasana duka masih menyelimuti rumah itu ditambah lagi karangan bunga yang masih terpampang didepan pagar menambah suasana duka itu semakin terasa, Ting tong…. suara bel rumahnya Olin berbunyi, ya tunggu…. terdengar suara Olin dari dalam rumah, pintu rumahpun terbuka disertai tangisan Olin sambil memeluk tubuh Gue, Gue gak ngerti ada apa sebenarnya, disela tangisannya Olin cuman bilang Maafin Gue wen,,, maafin Gue,… Gue dan Dita mencoba nenangin Olin yang nampak kacau, tenang Lin Lo minum dulu deh udah itu baru lo cerita, ada apa sebenernya, Dita Pun datang dengan segelas air putih ditangannya, Lo minum dulu ya Lin biar pikiran lo tenang “Ujar Dita” Sedikit demi sedkit keadaanpun menjadi tenang dan hening, Dit tolong tinggalin Gue berdua, Gue pengen ngomong berdua sama Weny “pinta Olin sama Dita” lalu ditapun berlalu kearah kolam renang yang ada disebelah rumah Olin, ada apa sih Lin….? tanya Gue aneh melihat sikap Olin.

Wen Lo janji ya gak marah sama Gue… Lo janji apapun yang Gue bilang nanti Lo gak marah sama Gue.. Iya Lin ada apa cerita dong “ Gue semakin penasaran dengan apa yang akan Olin ceritakan, Wen.. papa Kita udah gak ada, “Olin berkata ditengah isak tangisnya” maksud Lo apa Lin Gue gak ngerti “tanya Gue heran” sebelum Papa meninggal papa nitip kado ini buat Lo Wen, “Olin mengambilkan bungkusan kado yang tersimpan dibawah meja” maksud Lo apa sih Lin “Gue semakin gak ngerti” Lo Buka dulu deh Wen nanti juga pasti Lo ngerti.

“Weny.. anaku…

mungkin saat kamu baca surat ini papa sudah ada di tempat pembaringan papa yang terakhir, papa tau kesalahan papa yang sudah papa lakukan pada kamu,mama kamu, adik kamu, terlalu besar,mungkin papa tak pantas lagi disebut papa kamu, papa sadar papa sudah hancurnkan semuanya,

Weny.. anaku…

maafkan papa yang tak sempat membuatkan pesta kecil di hari ulang tahunmu hanya ini yang papa bisa berikan buat kamu, semoga kamu suka dengan kado kecil dari papa ini

Weny anaku…

terakhir papa titip adikmu Olin sayangi dia seperti adikmu sendiri, karena dia anak papa juga, papa berharap kalian bisa tinggal bersamam-sama dengan mamamu, karena Olin sudah tak punya siapa-siapa lagi selain kalian, papa harap mama kamu bisa membaca surat dari papa ini

maafkan papa…..”

Sumpah Gue gak tau harus berbuat apa, Gue emang benci sama bokap tapi sekarang semuanya berubah, Gue ngerasa kehilangan, bahkan yang gue gak percaya Olin itu anaknya papa berati adik Gue juga, Oh tuhan benarkah semua ini…. Belum sempat aku berfikir panjang Olin memeluk Gue lagi sambil nangis, maafin gue ya Wen gue udah ngerebut kebahagiaan keluarga Lo, maafin nyokap Gue juga ya wen… Gue gak bisa ngomong apa-apa gue cuman bisa nagis sambil nyoba nenangin sahabat sekaligus adik gue itu……

Semenjak itu kami memulai hidup baru bersama kehadiran Olin ditengah-tengah kami, suka duka kami jalani bersama dan ternyata nyokap juga bisa nerima Olin tanpa sedikit kebencianpun, kami pun memutuskan menjual rumah peninggalan papa dan membeli rumah yang lebih kecil yang lebih layak untuk kami huni.dan kami pun hidup bahagia sebagai keluarga kecil yang hidup tanpa papa……

Bimbang

Posted: November 17, 2009 in Coretan Malam, Renungan
Tags: , , ,

letih rasa menarjang fikiran penuh doa bersambut malam nan bising

kata-kata penuh gusar dalam kepalsuan manusia itu indah penuh

bungga-bunga namun penuh duri-duri tajam mencari tau akan sebuah jalinan

terjebak dalam riam-riam guratan tanya mau apa dan harus bagai mana entah

sampai kapan terus tergantung dalam harapan-harapan atau meski kau ku

gantung aku takkan rela meski aku yang menjadi diri mu detik-detik berlalu

tetap terjebak untuk memilih dunia ini hanya punya dua kata tidak tiga hanya

kata ya dan tidak hanya aku yang masih terjebak dalam kata yang tidak ya

dan tidak aku harus meyudahi ini semua atau aku akan terus terjebak dan

tarjebak dalam lingkaran Ya dan Tidak dan apa yang akan aku jawab adalah titah dari TUHAN

Celoteh Orang Asing

Posted: November 2, 2009 in Ragam, Renungan
Tags: , ,

Suatu pagi di Jakarta, kami menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.

Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..

“Your country is so rich!”

Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..

“Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia”
“Everything can be found here in Indonesia, u don’t need the world”
“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan,
dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !”

“Singapore is nothing, we cant be rich without Indonesia . 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat.”

“Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar2 panik. sangat terasa, we are nothing.”
“Kalian ga tau kan klo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia, kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras”

“Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri”

“Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi sendiri.”

“Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia
will rules the world..”

So, let’s we love our products,,,

Wilujeng Sumping

Localized version screenshotWordPress téh mangrupi platforma pamedal semantis pribadi anu jembar tur linuhung, anu nyimpen perhatosan kana kamonésan, kabakuan wéb, kalih kamangpaatan. WordPress miwatek haratis sakaligus mibanda ajén anu heunteu aya papadana.

Cindekna, WordPress nyaéta anu diperyogikeun anjeun nalika anjeun seja midamel padamelan ngeblog, moal ngahésékeun.

Nembé ngamimitian ngeblog? Sumangga tepangan panglawungan rojongan WordPress basa Indonésia. (more…)

Aku Kau Dan Ibumu

Posted: October 13, 2009 in About Me, Coretan Malam, Renungan
Tags: , , ,

1_650766018l“Lebih baik kamu pergi!!!, anak saya sudah sembuh, kau tak perlu repot-repot untuk menjenguknya” Ucap seorang ibu dengan nada sinis sambil menutup pintu rumahnya.

Anak muda itu berlalu dengan wajah murung dan sedikit rasa kesal dihatinya, apakah aku begitu hina dimatanya…? apakah aku tidak ada bedanya dengan sampah yang berserakan dijalanan…? Anak muda itu bertanya dalam hati sambil bergegas menghampiri sepeda motor yang ia parkir ditepi jalan, lalu ia pun berlalu meninggalkan rumah mewah yang tak pernah akrab dengan dirinya itu.

Hari terus berganti tanpa ada sedikit peubahan pun pada Anak muda itu, dia tetap menjadi dirinya, tetap seorang anak muda penganguran berambut gondrong yang hanya kenal musik rock dan dunia malam, sampai akhirnya terjadi pertengkaran antara dia dan wanita pujaan hatinya.

“Kamu kemana saat aku butuh suport kamu…? kamu keman saat aku berjuang menahan rasa sakit di badanku ini…?” Ucap Sherly pada Anak muda itu.

“Aku ada Sher,,, aku selalu ada buat kamu.” ucap Anak muda itu mencoba menenangkan Sherly.

“Apa kau bilang, kau ada…? 2 minggu aku berbaring sakit, tapi mana, kau tak juga datang untuk menjengukku. bukan kali ini saja bahkan saat aku merayakan hari ulang tahunku kau pun tak datang kan…?” Ucap Sherly semakin kesal.

“Kamu gak ngerti Sher… kamu gak tau sebenarnya…” Ucap Anak muda itu

“Apa yang aku gak ngerti….? kamu yang sibuk dengan Band mu itu…? apa kamu yang sibuk dengan teman2 nongkrong mu itu…? jawab yang….?” Air mata pun keluar dari mata Sherly menandakan bahawa ia tak kuat dengan keadaan yang dia terima.

“Waktu itu aku datang sher… waktu kamu sakit, waktu kamu ultah, aku selalu datang, tapi ada yang kamu tidak tau Sher…” Ucap Anak muda itu sambil menyapu air mata Sherly yang makin berlinang.

“Apa yang aku gak tau…? jawab yang… jawab…?” Ucap Sherly ditengah isak tangisnya.

“Mama kamu sher, mama kamu tak pernah menginginkan kehadiranku, Dia gak suka sama aku, dia benci aku Sher, mungkin karena aku anak urakan dan pengangguran sher…” Anak muda itu menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

“kamu sadar sekarang…? aku udah bilang dari dulu aku udah minta kamu buat berubah dari dulu, tapi semua belum terlambat. kamu mau berubah buat aku sekarang…? mulai detik ini.” Ucap Sherly sambil menatap mata anak muda itu.

“Aku gak bisa sher.. ini hidupku buatku musik adalah bagian dari hidupku.. aku gak bisa bohongin diriku sher..” Jawab Anak muda itu sambil melepaskan pelukan sherly.

“Jadi kamu lebih milih musikmu dari pada Aku…? jadi kamu lebih milih gaya hidup urakanmu dari pada aku…? aku nyesel yang…” Lalu Sherly pun pergi berlalu meninggalkan Anak muda itu yang masih tak mengerti akan apa yang harus dia perbuat.

“Maafin aku Sher…” Anak muda itu berlari mengejar Sherly yang pergi meninggalkannya. namun sherly tak perduli dan terus pergi semakin jauh meninggalkan Anak muda itu.

Setelah kejadian itu Anak muda itu selalu gelisah seakan ada yang hilang dari kehidupannya, seakan hidupnya sudah tak berarti lagi. sampai akhirnya Anak muda itupun mengerti dengan apa yang harus dia perbuat,

“Aku ingin hidup normal aku ingin kehidupan yang wajar, aku sudah bosan dengan semua hinaan tentang diriku,” Ucap anak muda itu sambil melapas anting-anting  yang melekat di telinganya, diambilnya cermin kecil disudut kamarnya lalu dia berkaca memandangi rambut panjang kusam yang selama ini dia banggakan. “selamat tinggal,maaf aku harus memotongmu, maaf aku harus menyakitimu dengan tajamnya gunting tukang potong rambut nanti.”

“Bu.. pak… aku pamit, aku ingin merubah kehidupanku, aku sudah bosan mengecewaka ibu dan bapak, aku akan mencoba mencari kerja bu..” Anak Muda itu meminta restu pada kedua orang tuanya.

“Selalu ada jalan menuju kebaikan nak, pergilah… doa kami selalu menyertaimu” Ucap sang ibu sambil memeluk tubuh anak sulungnya itu.

Kurang lebih satu bulan Anak muda itu mencoba merantau di kota metropolitan dan akhirnya diapun bekerja disebuah perusahaan yang berbaik hati mau mempekerjakan dia yang polos tanpa pengalaman kerja apaun.

Waktupun terus berjalan, sekarang Anak muda itu sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, sampai akhirnya dia tersadar dan teringat akan Sherly wanita yang telah dia sia-sikan, lalu lelaki itupun pulang kekampung halamannya dengan satu harapan Sherly akan senang melihat dirinya yang sekarang.

“Aku datang Sher.. ini aku.. ini aku yang kamu minta kan…? kamu senang kan melihat aku yang sekarang…?” Ucap Anak muda itu saat dia bertemu dengan Sherly.

“Aku senang kamu berubah, Tapi alangkah lebih senangnya aku kalau kamu berubah dari dulu, bukan sekarang.” Jawab Sherly singkat

“Kenapa Sher.. apa aku salah…?” Tanya Anak muda itu heran

“Kamu gak salah, waktu yang tidak berpihak pada kita” Jawab sherly

“Ada apa sih Sher…?” Anak muda itu semakin bingung.

“Maafkan aku, aku sudah gak bisa kaya dulu lagi, aku sudah milik orang lain” Jawab sherly dengan mata berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan Anak muda itu…

Pupuslah sudah semua harapan Anak Muda itu, tinggalah kengan manis yang masih tersisa terbungkus rapi dan terkubur dalam direlung jiwa yang paling dalam.

“Terima kasih Sher.. Terima kasih Tante.. Kalian berdua yang telah menyadarkanku dalam mimpi panjangku, sehingga aku mengerti akan arti kehidupan yang sesungguhnya,” Ucapku dalam hati setelah menyelesaikan tulisan ini.